Laxmii N Suchie's blog

Welcome to Laxmii N Suchie's blog

Senin, 15 November 2010

Malu dan Takutlah kepada Allah

Malu dan Takutlah kepada Allah


• Oleh : Sofyan, S. Ag

Malu adalah sebahagian dari iman “al-haya’u minal  iman”. Hanya mereka yang beriman tertanam dalam dirinya perasaan malu. Malu berbuat maksiat seperti korupsi, mencuri, memanipulasi, malu melakukan perzinahan, pornografi atau pornoaksi dan malu melanggar hukum-hukum Tuhan, hukum negara atau norma-norma yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Dan hanya orang-orang berimanlah yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT Penguasa jagat raya. Takut melanggar larangan-larangan Tuhan dan takut akan siksaan pedih yang akan diterimanya kelak.

Rasa takut seorang hamba terhadap Tuhannya diimplementasikan dengan cara mengagungkan Allah SWT, memahami kedudukan Allah sebagai penguasa alam semesta serta meyakini bahwa Dia berkuasa atas makhluk ciptaan-Nya. Diantara hamba Tuhan yang takut pada ilahi adalah “ulama”, masdar dari kata ‘alim diartikan dengan orang-orang berilmu atau mengetahui.

Para ulama yang benar-benar konsisten terhadap profesinya sebagai alim adalah orang-orang yang ikhlas melaksanakan perintah Tuhan sehingga digelar sebagai “pewaris para Nabi”, mereka merupakan pribadi yang dengan ilmunya mengetahui akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Karena dihiasi dengan perasaan malu dan takut kepada pemilik dunia dan penguasa akhirat prilaku sehari-hari yang ditunjukkan selalu baik, menjadi tauladan bagi masyarakat, senantiasa mawas diri, bersikap wara’ serta berhati-hati untuk tidak melanggar aturan-aturan ilahi.

Karakter Manusia

Allah jadikan manusia dengan dua karakter berbeda, ada yang tawadhu’, baik, patuh menjalankan perintah Tuhan dan takut melanggar larangan-Nya. Ada juga karakter manusia sombong yang sedikitpun tidak memiliki perasaan malu dan takut kepada Allah sehingga dengan bangga bebas melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan, tanpa sedikitpun merasa malu dan takut mendapatkan siksaan pedih kelak di akhirat. Begitu banyak maksiat dan larangan Tuhan yang dilanggar manusia, antara lain:

* Berzina atau melakukan pergaulan bebas
Betapa banyak diantara anak Adam melakukan perbuatan zina dan pergaulan bebas, para pemuda dan pemudi yang dimabuk asmara melakukan adegan ciuman, berpelukan di depan umum sampai melakukan hubungan badan tanpa malu. Pejabat-pejabat kelebihan uang atau lelaki hidung belang yang beruang tidak sulit “jajan” memenuhi nafsu syahwat, tinggal memilih mangsa dengan sesuka hati dan bebas melakukan dimana saja.

Ada lagi yang menjadikan seks sebagai mata pencaharian seperti dilakukan para wanita susila, bahkan banyak diantara mereka sanggup membangun rumah, membeli kendaraan dan berbagai kebutuhan hidup dari hasil melacurkan diri. Patut kita sayangkan justru akhir-akhir ini perzinahan telah banyak dilakukan para pelajar, mahasiswa calon intelektual penerus estafet generasi masa depan.

Maraknya situs-situs porno di internet atau mereka dapatkan dari HP ke HP menambah bobroknya mental generasi muda. Perzinahan dan hidup layaknya suami istri mereka lakukan tanpa sedikitpun merasa malu dan takut kepada Allah. Akibatnya Allah menurunkan penyakit kutukan, mematikan yang sudah banyak menelan korban jiwa, merenggut kematian dan belum ada obatnya yaitu AIDS dan HIV.

* Memakan riba dan uang haram
Rasulullah SAW mengingatkan kita, “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih baik baginya” (HR. Tabrani dan Ibnu Hibban). Beliau jauh-jauh hari sudah mengingatkan jangan memakan harta riba dan mencari uang dengan cara batil yang diharamkan, cari dan makanlah dengan cara yang halal.

Tetapi kalau kita lihat fenomena di tengah-tengah masyarakat ada yang merasa pesimis mendapatkan harta dengan halal, apa kata mereka, “Jangankan mencari yang halal, yang haram saja sulit”. Ungkapan ini mungkin ada benarnya, apalagi kondisi perekonomian saat ini sangat sulit, sudahlah lapangan pekerjaan sempit, uang tidak ada, anak banyak, istri perlu biaya buat kebutuhan sehari-hari, solusinya mungkin dengan cara menipu, mencuri, merampok dan lain sebagainya.

Orang tidak takut dan tidak malu memakan harta yang diperoleh dengan cara yang diharamkan. Seolah-olah memakan harta riba, melakukan pekerjaan haram adalah hal biasa, bahkan ironinya sanggup menghalalkan apa yang diharamkan Tuhan. Tidaklah mengherankan jika mengkonsumsi barang haram menjadi sarapan sehari-hari, yang dilakukan tanpa rasa takut dan malu.

* Enggan menjaga lisan
“Mulutmu adalah harimaumu”, pepatah ini mengingatkan kita agar berhati-hati menggunakan lisan. Banyak orang celaka dan teraniaya karena lisan dan ucapan yang tidak terjaga. Sebaliknya banyak juga manusia selamat dan bahagia karena ucapan baik serta nasehat-nasehat yang berharga. Dalam sehari semalam barangkali ribuan kata keluar melalui bibir dan lidah yang tidak bertulang ini.

Kadangkala kata-kata tidak sopan, menyakitkan orang lain, mengadu domba sesama, menghina, mencaci maki, mengolok-olok, menggibah, dusta dan berbagai kata yang tidak sepantasnya keluar dari mulut kita. Namun banyak juga diantara manusia dimana ribuan kata-kata mulia, nasehat-nasehat menyejukkan hati dan mententramkan jiwa keluar dari bibirnya.

Saudaraku, berfikirlah sebelum berkata dan berbuat. Jangan sampai perkataan dan perbuatan kita menganiaya, menzalimi dan menyakiti orang lain. Berkatalah yang baik dan benar, jika tidak sanggup maka lebih baik diam, “asumtu hikmatun waqalilu fa’iluhu” (diam itu emas tetapi sedikit sekali yang melakukannya).

* Enggan menundukkan pandangan
Allah SWT telah memerintahkan para wanita dan lelaki beriman agar menjaga penglihatan, menundukkan pandangan tidak jelalatan memandang pemandangan yang diharamkan Tuhan kesana kemari. Memang sulit menjaga pandangan dari sesuatu yang diharamkan karena kondisi saat ini zaman sudah edan, dimana-mana kita lihat para wanita memakai pakaian ketat, seksi sehingga tampaklah keindahan dan kemolekan tubuh yang seharusnya dibungkus rapat dengan jilbab dan jubah panjang.

Mereka berjalan melenggok dan meliuk-liukkan tubuh di hadapan para lelaki tanpa ada rasa malu, segan, bahkan kadangkala ada unsur kesengajaan. Gambar-gambar porno di majalah-majalah, internet, televisi dan media begitu banyak menyebar, dan sengaja dilihat. Seolah-olah sebahagian orang memandang bahwa melihat hal-hal demikian sudah biasa dan tidak dianggap tabu apalagi berdosa, bahkan sudah merupakan bagian dari kehidupan di zaman modern.

Makanya konsep Islam mengajarkan bahwa melihat sesuatu yang haram tanpa sengaja sekali saja masih dimaafkan, tetapi kalau sudah menjadi rutinitas alias ketagihan itu diharamkan. Masih banyak lagi jenis pelanggaran yang dilakukan manusia tanpa dapat termaktub semuanya.

Saudaraku waspada dan berhati-hatilah menjalani hidup ini, apapun perbuatan kita selalu diawasi ekstra ketat oleh waskat (pengawasan malaikat) yang selalu hadir mencatat amal baik, buruk di kanan dan kiri kita. Semoga Allah jadikan kita hamba yang selamat, bahagia di dunia dan akhirat. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Pembimbing Rohani di Pusat Rehabilitasi Narkoba al-Insyaf Departemen Sosial Sumatera Utara, mahasiswa S2 IAIN Medan, pengajar di pesantren Darularafah Raya dan dosen STAIDA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar